Sejak masa pandemi Covid-19, sistem kerja work from home (WFH) telah banyak diterapkan di perusahaan, termasuk diadopsi oleh negara.
Pemerintah mengizinkan para PNS untuk bekerja di rumah dengan serius dan sesuai beban kerja normal.
Namun, ternyata 30% dari PNS tidak ngapa-ngapain alias "gabut" saat sedang WFH. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana.
Berdasarkan survey, 30% PNS merasa beban kerja selama WFH makin berat, 40% merasa beban kerjanya sama, sementara 30% tidak menjawab.
"30% sisanya tidak menjawab, mungkin lebih ringan atau tidak bekerja. Jadi dari data itu saja kita tahu 30% ASN gak ngapa-ngapain," terang Bima.
Salah satu alasan turunnya produktivitas PNS selama WFH adalah faktor usia dan keengganan mempelajari hal baru.
"Ada yang mengatakan, kami tidak mampu untuk mempelajari (ketrampilan) digital, kami sudah tua. Itu mungkin bukan tidak mampu, tapi tidak mau belajar," bebernya.
Padahal, di masa depan birokrasi ASN akan lebih menuntut pekerjaan di sektor digital. Bima pun menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berharap pada orang-orang yang tidak ingin melakukan perubahan.
"Jadi, WFH bagi mereka bukan untuk working from home, tapi untuk one of holiday. Jadi gak ngapa-ngapain, karena mereka tidak memiliki kompetensi, tidak memiliki infrastruktur, tidak ada sarana yang memadai. Keluar dari ucapannya adalah tidak ada pulsanya. Ini kemudian yang akan menghambat," katanya.
"Jadi PNS kita too many, but not enough dari sisi kompetensinya," tutupnya.
Padahal, pemerintah sebelumnya mengatakan ingin membuat sistem kerja agar para PNS bisa bekerja di mana saja (work from anywhere/WFA).